Mahasiswa Pascasarjana Pentas Drama Putri Pinang Masak di Gedung Aula Pascasarjana Universitas Sriwijaya


Mahasiswa Pascasarjana Pentas Drama Putri Pinang Masak 

 

Pada Sabtu, (27/4) pukul 09.00 WIB, mahasiswa kelas reguler jumat-sabtu Pendidikan Bahasa Inggris Pascasarjana Universitas Sriwijaya semester II tampil di Gedung Aula Pascasarjana Universitas Sriwijaya dalam pementasan drama berjudul ‘Putri Pinang Masak’dari Sumatra Selatan.

 

Pementasan drama yang rutin diadakan setiap tahun dalam mata kuliah Literature in EFL Classroom ini adalah wadah untuk menyalurkan kreatifitas mahasiswa. Hal ini dibuktikan dengan penampilan para mahasiswa. Menurut Dr. Rita Inderawati, M.Pd dan Dr. Mgrt Dinar Sitinjak, M.A, selaku dosen pembimbing, kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan budaya di daerah, melatih jiwa kepemimpinan mahasiswa dan juga melatih mahasiswa untuk mengekspresikan diri sebagai seorang bangsawan dan orang biasa.

 

Nur Azizah, ketua acara pementasan drama tersebut menuturkan bahwa pementasan drama ini merupakan sebuah karya yang menakjubkan. Dan melalui pementasan drama ini bisa mengangkat budaya Palembang sebagai salah satu cara melestarikan dan mempromosikan budaya kita. “Kita bersebelas, semuanya dari kita. Yang jadi panitianya kita sendiri, yang mengurusnya kita sendiri, dan yang mainnya kita sendiri.”

 

Acara pementasan drama ini dibuka oleh pembawa acara, Ulfa Oktaviani mahasiswa Pascasarjana Pendidikan Bahasa Inggris dan diikuti dengan kata sambutan oleh Dr. Rita Inderawati, M.Pd. selaku dosen pembimbing dalam mata kuliah Literature in EFL Classroom. Selanjutnya, Prof. Dr. Ir. H. Anis Saggaff, MSCE selaku rektor Universitas Sriwijaya memberi sambutan dan membuka pentas drama secara resmi. Dalam sambutannya beliau menyatakan sangat mendukung pentas drama berbahasa Inggris terutama dengan mengangkat cerita atau legenda provinsi Sumatera Selatan. Acara tersebut juga di hadiri oleh Bapak Widodo, M.Pd. selaku Kepala Dinas Pendidikan Sumatera Selatan, walaupun tidak lama atau tidak sampai ke acara inti dikarenakan  harus menghadiri acara yg lain tetapi beliau tetap memberikan apresiasi yang tinggi terhadap pementasan drama tersebut dan juga dihadiri oleh Siswa SMA Negeri 1 Palembang, Siswa SMA Srijaya Negara, serta mahasiswa Unsri dari berbagai fakultas terutama mahasiswa prodi Pendidikan Bahasa Inggris. Pementasan drama ini juga disponsori langsung oleh Bapak Amiruddin Nahrowi, M.Pd. selaku Staf Khusus Gubernur Prov. Sumsel Bidang Keagamaan.

 

Pementasan drama yang dipersembahkan ini menceritakan tentang seorang putri yang bernama Nafisah dan berasal dari daerah Banten, Jawa Barat. Kecantikan putri Nafisah membuatnya dijuluki Putri Pinang Masak. Kecantikannya menjadi buah bibir kalangan masyarakat. Kabar kecantikan sang putri sampai kepada Sultan Palembang dan dia berhasrat untuk meminangnya. Sultan Palembang mengutus pengawalnya agar membawa sang putri ke istana untuk dijadikan gundik. Mendengar kabar penjemputan tersebut, sang putri mencari akal untuk dapat dapat lepas dari muslihat Sultan Palembang. Ia merebus jantung pisang dan air rebusan itu dilumurkan ke tubuhnya. Akibatnya, sang putri terlihat hitam pekat, kotor dan menjijikkan. Para pengawal membawa sang putri ke hadapan Sultan Palembang. Sultan Palembang merasa tertipu oleh wujud sang putri yang buruk itu dan mengembalikannya.

 

Selang beberapa waktu, terdengar lagi kabar tentang kemolekan sang putri di telinga Sultan Palembang. Sultan Palembang memerintahkan bawahannya untuk menyelidiki kenyataan sebenarnya. Hasilnya, terkuaklah tipu muslihat sang putri. Sultan Palembang pun murka dan memerintahkan pengawal menangkap sang putri. Mereka tidak berhasil, karena sang putri melarikan diri ke sebuah daerah terpencil yang tak mungkin ditemukan Sultan Palembang. Sang Putri tinggal dengan pengikutnya dan nama daerah tempat tinggal mereka diberi nama desa Senuro, yang terletak di Empat Ulu, tepi sungai Musi. Berubahlah nama sang putri menjadi Senuro untuk menghilangkan jejak dari kejaran pengawal Sultan Palembang. Disana sang Putri bertemu seorang pemuda bergelar Sang Sungging. Keduanya mengikat cinta dan akan menikah. Namun pernikahan tersebut tidak pernah terjadi, karena kemudian sang putri menderita sakit parah dan meninggal dunia. Sebelum meninggal, dia bersumpah bahwa anak-cucu pengikutnya tidak akan memiliki kecantikan seperti dirinya. Dia berbuat demikian sebab menurutnya kecantikan hanya membawa petaka.

 

Selain itu, pementasan drama ini juga dilengkapi dengan musik yang berbeda-beda dari setiap adegan dan berbagai properti dipersiapkan. Harga tiket untuk masuk pun GRATIS, bisa untuk siswa, mahasiswa, guru-guru, dosen-dosen dan umum. Pentas drama ini juga mendapat dukungan moril dan property dari Sanggar Dulmuluk Kampus yang diketuai oleh Prof. Dr. Nurhayati, M.Pd.

 

Semoga melalui mata kuliah Literature in EFL Classroom dan pementasan drama seperti ini kita bisa mengenal lebih banyak lagi budaya yang ada di sekitar kita untuk menambah pengetahuan dan informasi, menjaga dan melestarikan, serta menginternasionalkan budaya bangsa (NA, SS, RI)

 

Tak ada yang tak mungkin jika kita bersama (the power of 11 ladies) ?


 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

Send Your Comment:

grinLOLcheesesmilewinksmirkrolleyesconfused
surprisedbig surprisetongue laughtongue rolleyetongue winkraspberryblank starelong face
ohhgrrrgulpoh ohdownerred facesickshut eye
hmmmmadangryzipperkissshockcool smilecool smirk
cool grincool hmmcool madcool cheesevampiresnakeexcaimquestion