Masihkah Sastra Diperlukan di Era Merdeka Belajar?

Rabu, 26 Januari 2022, dalam kegiatan THE FIRST NATIONAL CONFERENCE on Social Sciences, Education, and Technology yang dihadiri akademisi dari berbagai Universitas di Indonesia, Ketua Laboratorium Pendidikan Bahasa Indonesia, FKIP Unversitas Sriwijaya, Dr. Rita Inderawati, M.Pd diundang sebagai Invited Speaker untuk menyampaikan pemaparan materi dengan judul “Pedagogi Sastra: Masih Perlukah di Era Merdeka Belajar?” Pemaparan makalah ini dimoderatori oleh Dr. Nurul Faddhillah, S.Pd., M.Hum (IAIN Lhokseumawe). Lembaga pengundang tersebut adalah Yayasan Pattola Palallo yang diketuai oleh Dr. Andi Asrifan, S.Pd., M.Pd. dari Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan, bekerjasama dengan beberapa Institusi serta perguruan tinggi dalam negeri, antara lain Universitas Negeri Makassar, Universitas Sriwijaya, UIN Maulana Malik Ibrahim, Universitas Mulawarman, Universitas Cenderawasih, dan Universitas Muhammadiyah Bone.

Dalam Konferensi nasional yang pertama ini, beberapa kata sambutan disampaikan oleh Dr. Muthmainah, M.Pd. (Universitas Al-Asyariah Mandar dan Dr. Abd. Ghofur, M.Pd. (IAIN Madura). Salah satu pembicara utama adalah Wakil Rektor Universitas Negeri Makasar (UNM), Prof. Muhammad Basri Jafar, M.A., Ph.D., yang tak lain adalah teman kuliah Dekan FKIP, Dr. Hartono M.A., di salah satu universitas terkenal di Amerika Serikat.

Dalam pemaparannya, Dosen Terbaik Universitas Sriwijaya tahun 2013 ini menyampaikan bahwa Pedagogi sastra berfokus pada hubungan timbal balik antara karya sastra dengan respons pembaca terhadap karya sastra yang dibacanya dengan menerapkan 7 respons pembaca (merinci, menjelaskan, memahami, menafsirkan untuk mengembangkan aspek kognitif dengan cara berpikir kritis, serta melibatkan perasaan, menghubungkan, dan menilai untuk menyerdaskan perasaan) dan 4 dimensi simbol visual (grafik, ilustrasi, film/video, dan seni pertunjukan) apresiasi karya sastra untuk mempertajam ranah psikomotor (tindakan atau perilaku) pembaca.

Apresiasi sastra dapat dilakukan secara digital baik secara tertulis maupun lisan untuk mencerminkan penajaman otak dan hati pembaca serta untuk pengayaan perilaku dengan menciptakan seni pertunjukan seperti tarian, pantomim, tablo, drama, dan efek khusus yang semuanya dimanfaatkan untuk pengembangan karakter mahasiswa dengan lingkungan kormpetensi abad ke-21 di era RI 4.0. Mahasiswa khususnya mengembangkan kemampuan berkomunikasi, kolaborasi, berpikir kritis, dan berkreativitas.

“…Sastra/karya sastra menjadi Nutrisi sekaligus Amunisi bagi otak, hati, dan tindakan. Apresiasi sastra diperlukan oleh peserta didik melalui pedagogi sastra dengan cara melakukan kegiatan estetik di era merdeka belajar ini” tutur Rita.

Salah satu bentuk apresiasi sastra di era digital yaitu dengan memanfaatkkan penggunaan teknologi seperti Canva, Pinterest, dan Zoom yang digunakan dalam proses belajar dan mengajar matakuliah Literature in ELT. Dengan adanya kecanggihan teknologi di Abad ke-21, peserta didik mampu menampilan drama secara virtual. Di kelas Literature ELT, prodi Pendidikan Bahasa Inggris yang dibimbing oleh Rita, peserta didik mampu berkreatifitas dan berkolaborasi untuk mempersembahkan penampilan drama virtual dengan baik. “…dengan demikian, keadaan pandemic covid-19 tidak menghambat peserta didik untuk melakukan kegiatan estetik sebagai bentuk apresiasi sastra di era merdeka belajar” tutur Rita. 

Tidak hanya penampilan drama secara virtual, mahasiswa dan dosen Pendidikan Bahasa Indonesia khususnya juga difasilitasi untuk dapat memanfaatkan Laboratorium Bahasa Indonesia sebagai wadah untuk mengasah kemampuan dalam dunia peran dan teater. Dengan tetap menjaga protokol Kesehatan (ProKes), mahasiswa FKIP Universitas Sriwijaya dipersilakan untuk berlatih dan memanfaatkan fasilitas yang ada di Laboratorium Pendidikan Bahasa Indonesia, FKIP Universitas Sriwijaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

nine − four =